lelaki
September 6, 2011
lelaki punggungnya sampai ke tempat ombak menjelang sepi
angin menderu terus ke barat ke ujung-ujung bahu
aku.
sayang, aku terbawa sampai ke situ
tempat laut menjelma telaga. dan deru berubah senja.
sungai
Desember 1, 2010
sore itu kulihat sungai bermula dari buku-buku jarimu. hujan doa dari mataku telah menjadi airnya, membuncah-buncah ketika ia pergi mengaliri lenganmu. angin mendaraskan litani yang bersahut-sahut di sepanjang kulitmu:
“Hosanna! Hosanna! Hosanna in the highest!” seiring pusaran mendaki pundakmu .
dan bermuara ia di bibirmu yang adalah lautan luasnya tak terperi. tak terbaca meski sudahlah tenggelam aku di dalamnya.
di sungai aku jadi penari. menarikan hasrat tercekat di langit-langit. meniru-niru gerakmu yang liku menelikung.
Montase
November 9, 2010
adalah tangismu.
yang kau tabung dalam toples. berdebu di sudut meja bersama asbak tua, vas bunga rompal, buku kamus menguning yang bertahun lalu kita pakai belajar
mengeja nyeri.
adalah tangismu.
sebuah miniatur rasa takut yang membiak seiring waktu.
lalu terbit dari matamu
tumpah ke jalanan. mengaliri pohon, lampu, tiang listrik, dan aku yang berlari.
ke persimpangan.
hujan abu
November 5, 2010
saat pagi itu kau buka pintu
hujan abu deras di telapakku
angin telah menebar kisah
begitu jauh. kata-kata tinular
nyala di dadanya. ingin keluar
mencari laki-laki, istri-istri,
anak-anak perempuan yang
merindu suarga.
ke segara! ke segara! kataku
waktu itu. Tapi jalanan memucat
banjir tertera di wajah-wajah lelah
airmata sudah jadi sungai
mengering di sisi-sisi. pantai,
katamu, akan selalu menunggu.
hari ini kita akan berlari.
Dari nyala-nyala api.
Paramour
September 5, 2010
bila nanti kutawar sakit yang katamu rajam di sepanjang tubuhmu
akankah kuracik juga hatiku bersama obat itu?
dan bersama tiap bulir peluh yang tertera di kasurmu,
kubiarkan pedih berganti milikku.
—||:
Agustus 23, 2010
berhentilah sebentar biar kucicipi pedihmu. mungkin saja aku tak akan pernah mengerti arti pertanyaan yang kau lontarkan pada jalan sepi menuju rumahmu. pada lampu-lampu teras. pada angin yang berdentang-dentang sepanjang pepohonan.
mungkin waktu bagi kita terlambat. tapi tak apa, biar kunikmati sedikit getirmu. tahukah kamu, di sebalik jendela-jendela memang selalu adalah kesunyian yang meremang. kita bisa satu di antaranya. jadi wajah-wajah patah yang asing; yang terus saja rinai dan berderai.
“mari, miladi, kita jadi wajah-wajah patah yang asing;”
“yang terus saja rinai dan berderai.”
sungguh itu pun tak apa. agar suatu waktu kita tak lagi menduga dan menuduhkannya pada hari kemarin.
Dalam Hujan
Agustus 22, 2010
hujan yang turun kemarin mungkin saja mengetahui lebih dulu tentang waktu yang kita rentang sedikit demi sedikit. seperti halnya dia mengetahui dari sejak hari lahirnya, bahwa tanah, tanaman dan kita yang merindu akan selalu memanggil, ingin jadi muaranya. lalu tahukah kamu, kupikir hujan berlambat-lambat, tak mau jatuh terlalu cepat. dibawanya detik-detik dalam tiap bulir air yang berat. meskipun, pada akhirnya mereka jatuh meluruh di kaca jendela. meskipun, kita sudah mencoba-coba menjaganya dalam kekekalan. tetap saja, satu-satu waktu mengalir, terlepas dari genggaman.
tapi biar kuberi tahu kamu sebuah rahasia: sesungguhnya hujan pun telah mengetahui lebih dulu perihal ciuman itu. maka dalam segala keilahian, telah dibungkusnya dalam keabadian tubuhmu dan tubuhku yang saling mendekat.