Di Balik Pintu
November 20, 2009
gelap mungkin bukan lagi milik kita yang berjingkat ke atas kursi kayu untuk mengintip lembah di balik pintu
gelap kini milik lembah yang tangisnya deras diperkosa ayah yang hutannya begitu rimbun begitu gemericik
daun daun bersahutan waktu itu, waktu kita tak lagi mengenal ibu yang menua di sudut lemari
ah, pulanglah ayah.
kami masih berjingkat di balik pintu
menunggumu.
Tamu yang Datang Begitu Terlambat
November 13, 2009
pergi. pergi.
seribu kali kau ketuk pun
akan sia sia.
kuncinya telah kubuang
bersama harapan.
Menujumu
November 24, 2008
:benz
kuingat
ujung pundakmu yang selamanya adalah enigma
tak bisa kutera makna setiap tatap yang kau semat di sela dada;
meski ternyata itu luka.
sungguh, rebahku di sana bukan untuk sepetang saja
tapi kau tahu, angin bertalu-talu: memanggilku
di sebalik lembah, sebuah rahasia
biarlah aku dibawanya ke seluruh ujung dunia
aku ingin memahami setiap langkah menujumu
menujumu.
Kutarik Garis Lurus dari Dahimu
November 23, 2008
kutarik garis lurus dari dahimu yang dilebati hijau rumput tinggi dan langit ungu seujung petang yang purna. seperti kamu. sungguh seperti jiwamu: menari senantiasa seirama kartika di atas kita. sementara aku bersembunyi di tengkukmu. mengakrabi bimbang.
kulewati anak sungai matamu yang liar gemericiknya. menarik-narik jarikku agar tenggelamlah aku di dalamnya, di heningnya. kutarik garis melewati gerimis suara semak di telapakku. mungkin langkah kaki telanjang tak sampai ke bibirmu. tapi biarlah.
garisku mencapai pipimu. tempat telaga. tempat dahaga.
kukecup.
Suatu Hari Akan Kubiarkan Sepi Menyudahi Gerakmu
September 23, 2008
suatu hari akan kubiarkan sepi menyudahi gerakmu. bila kita menyerah pada lengang ruang di dada. bila kau terjerat jarikmu dan tanganku tak disana untuk menangkapmu.
Sindhu, suatu hari akan kubiarkan sepi menyudahi gerakmu. mungkin di sebuah senja yang biasa. mungkin ketika kita mengenali malam lewat sunyinya. atau mungkin saja, di suatu waktu yang tak bisa, tak ingin kudefinisikan.
tapi sungguh, suatu hari akan kubiarkan sepi menyudahi gerakmu. membunuh lekukmu. dan semua di dunia.
tapi tidak malam ini.
Obat
September 9, 2008
aku tak takut pada pahitmu
aku hanya takut akan sembuhku.
Aku Ingin Menggambar Wajahmu
September 9, 2008
aku ingin menggambar wajahmu dan jurang-jurang di dalamnya. menjelajah mencari dasar dan mata airnya. menguak rahasia di setiap semak dan retak dinding tebing. begitu terjal, tapi juga begitu kukenal.
aku ingin menggambar wajahmu dan gunung-gunung angkuhnya. semakin kudaki semakin sunyi. semakin jauh kulminasi. menusuki dingin menyesaki angin. malammu mencekat, aku terus mendekat.
aku ingin menggambar wajahmu dan wajahmu kugambar. wajahmu kugambar di telapakku.
