kutarik garis lurus dari dahimu yang dilebati hijau rumput tinggi dan langit ungu seujung petang yang purna. seperti kamu. sungguh seperti jiwamu: menari senantiasa seirama kartika di atas kita. sementara aku bersembunyi di tengkukmu. mengakrabi bimbang.

kulewati anak sungai matamu yang liar gemericiknya. menarik-narik jarikku agar tenggelamlah aku di dalamnya, di heningnya. kutarik garis melewati gerimis suara semak di telapakku. mungkin langkah kaki telanjang tak sampai ke bibirmu. tapi biarlah.

garisku mencapai pipimu. tempat telaga. tempat dahaga.

kukecup.

Satu Tanggapan ke “Kutarik Garis Lurus dari Dahimu”

  1. Steven berkata

    permainan katamu nakal namun tetap lugu dan sederhana dan tak kutemukan kekinian yg begitu nyata di puisi lain, kecuali dalam tulisanmu.

    kuduga kau dan benz punya struktur pikir yg sama, tentu saja, kau sudah jauh berpengalaman.

Tinggalkan Balasan