Dalam Hujan
Agustus 22, 2010
hujan yang turun kemarin mungkin saja mengetahui lebih dulu tentang waktu yang kita rentang sedikit demi sedikit. seperti halnya dia mengetahui dari sejak hari lahirnya, bahwa tanah, tanaman dan kita yang merindu akan selalu memanggil, ingin jadi muaranya. lalu tahukah kamu, kupikir hujan berlambat-lambat, tak mau jatuh terlalu cepat. dibawanya detik-detik dalam tiap bulir air yang berat. meskipun, pada akhirnya mereka jatuh meluruh di kaca jendela. meskipun, kita sudah mencoba-coba menjaganya dalam kekekalan. tetap saja, satu-satu waktu mengalir, terlepas dari genggaman.
tapi biar kuberi tahu kamu sebuah rahasia: sesungguhnya hujan pun telah mengetahui lebih dulu perihal ciuman itu. maka dalam segala keilahian, telah dibungkusnya dalam keabadian tubuhmu dan tubuhku yang saling mendekat.