—||:

Agustus 23, 2010

berhentilah sebentar biar kucicipi pedihmu. mungkin saja aku tak akan pernah mengerti arti pertanyaan yang kau lontarkan pada jalan sepi menuju rumahmu. pada lampu-lampu teras. pada angin yang berdentang-dentang sepanjang pepohonan.

mungkin waktu bagi kita terlambat. tapi tak apa, biar kunikmati sedikit getirmu. tahukah kamu, di sebalik jendela-jendela memang selalu adalah kesunyian yang meremang. kita bisa satu di antaranya. jadi wajah-wajah patah yang asing; yang terus saja rinai dan berderai.

“mari, miladi, kita jadi wajah-wajah patah yang asing;”

“yang terus saja rinai dan berderai.”

sungguh itu pun tak apa. agar suatu waktu kita tak lagi menduga dan menuduhkannya pada hari kemarin.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.