Pencuri

dia tak mendengarku
mengendap-endap di balik pintu
dengan pisau dapur berkilat
gagangnya basah oleh keringat

dia masih tak mendengarku
ketika ku berjingkat masuk ruang tamu
kurasakan keras jantungku berdetak
adrenalin memuncak!

tuhan, ini semua begitu seru
kenapa aku tak melakukannya dari dulu!

kulihat dia di ruang sebelah
aku sembunyi di balik kursi merah
dia masih saja tak mendengarku
hihihi, dasar dia memang dungu!

aku merangkak perlahan-lahan
mendekatinya yang duduk di meja makan
jantungku berdetak begitu kencang
keringat dingin membasahi pisau di genggaman

aku merangkak sampai balik punggungnya
menahan nafas agar tak dipergokinya
ini dia saatnya!
saat yang begitu kudamba!

kuhitung sampai tiga…

satu.
kukuatkan genggaman pada batang pisauku

dua.
kurasakan sebuah senyum mengembang dari bibirku

tiga!
aku bangkit dengan cepat.
dia menoleh terperanjat.
senyumku makin lebar.
dia pucat.
kutancap pisau ke dadanya.
darah muncrat.

lalu hening sesaat…

matanya menatap nyalang
pada senyumku yang masih lebar
lalu dia mengerang
ha! tapi cuma sebentar
setelahnya dia jatuh tersungkur
dengan darah masih mengucur
dia mati.
aku, tertawa keras sekali.

kucabut pisau dapur
lalu dadanya kubelah melintang membujur

ini pembalasanku
karena kau telah mencuri hatiku.
kini kucuri punyamu.

Iklan

4 thoughts on “Pencuri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s