Di Balik Pintu

gelap mungkin bukan lagi milik kita yang berjingkat ke atas kursi kayu untuk mengintip lembah di balik pintu
gelap kini milik lembah yang tangisnya deras diperkosa ayah yang hutannya begitu rimbun begitu gemericik
daun daun bersahutan waktu itu, waktu kita tak lagi mengenal ibu yang menua di sudut lemari

ah, pulanglah ayah.
kami masih berjingkat di balik pintu
menunggumu.

Iklan

One thought on “Di Balik Pintu

  1. BAGUSAN JUGA TULISANKU INI:

    Rumput hijau masih basah dan berembun
    Aku rebahkan kau diatasnya
    Kusanggah dengan sebatang kayu ukiran kecil
    Aku tahu kau masih baru
    Kuregangkan tanganku, ku tahan nafasku
    Aku pukul kamu sekuat tenagaku
    Tapi selembut hatiku
    Kau melesat,terbang tinggi, menukik dan jatuh
    Kau hilang dibalik ilalang
    Oh bola kecilku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s