Anamnesis

: iyan

kadang hidup harus puas dengan memori.
namun ingatan tak dapat dipegang. dia meluncur dari genggaman seperti es batu, seperti ilusi yang tak tentu, berkelindan sendiri di antara mereka. mempermainkanku. dan kenangan tentangmu.

lalu aku berusaha mengingat mimpi mimpi
yang begitu tak sabar ingin segera pergi dari kamar ini.
meninggalkanku berharap kau terselip di antara foto foto buram masa kapan dan gedung gedung tua yang tangganya curam dan bertautan. di antara hantu hantu. di antara kereta kuda dan wajah wajah asing yang tak kentara.

apa kau ada? menggapaiku dan memelukku seperti yang kuinginkan. ah, kalau nanti bertemu lagi tentu akan kukalungkan tanganku sepanjang punggungmu yang senja.

semoga setelahnya aku tak lagi jadi pelupa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s