—||:

berhentilah sebentar biar kucicipi pedihmu. mungkin saja aku tak akan pernah mengerti arti pertanyaan yang kau lontarkan pada jalan sepi menuju rumahmu. pada lampu-lampu teras. pada angin yang berdentang-dentang sepanjang pepohonan.

mungkin waktu bagi kita terlambat. tapi tak apa, biar kunikmati sedikit getirmu. tahukah kamu, di sebalik jendela-jendela memang selalu adalah kesunyian yang meremang. kita bisa satu di antaranya. jadi wajah-wajah patah yang asing; yang terus saja rinai dan berderai.

“mari, miladi, kita jadi wajah-wajah patah yang asing;”

“yang terus saja rinai dan berderai.”

sungguh itu pun tak apa. agar suatu waktu kita tak lagi menduga dan menuduhkannya pada hari kemarin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s