Perjumpaan Mencatatkan Namanya

Perjumpaan mencatatkan namanya
sepanjang jalan-jalan membentang
di tembok-tembok rumah, pada tiang-tiang lampu
jalan yang enggan menyala, dikerat di
batang-batang pohon layaknya anak sekolah
yang sedang jatuh cinta

Kota ini menyambutku dengan bukti-bukti
bagai nenek tua yang menyodorkan album foto
dan cerita-cerita masa lalu pada siapa saja yang
mau mendengarkan. Sudut-sudutnya berteriak lantang
mengiyakan:

Ya, ya! Benar, di sinilah perkara itu sesungguhnya telah terjadi!

Ingatan banjir di jalanan, masuk ke
rumah-rumah, merendam tiang lampu
dan pohon-pohon.

Aku terbawa pusarannya.

Jogja, 2017

Iklan

Perjalanan

Perjalanan selalu bisa melemparku dari satu waktu ke waktu yang lain
Dan di jendela bus kota kutemukan seorang gadis yang matanya selalu mencari
Dan hatinya selalu menunggu

Kenangan tumbuh dalam tubuhmu seperti pohon yang berkali-kali kau tebang, namun selalu saja suatu waktu kau temukan lagi tunasnya yang bernas di halaman belakang rumahmu

Akarnya jejak kakimu
Batangnya mimpi dan tidurmu
Dahannya melingkar di keningmu
Dedaunnya jemari yang sudah lama sunyi

Lalu malam semakin larut, dan jarak semakin surut;
Gadis di kaca jendela, menolak beranjak dewasa

Jogja, 2017

Pagi

Apakah pagi datang ke jendelamu membawa pencarian akan wajah-wajah yang suatu waktu pernah kau kenal; dulu sekali – sebelum hidupmu yang sekarang ini dihempaskan tiba-tiba ke wajahmu. Sementara tubuhmu, lihatlah tanganmu yang ringkih tergelagap ingin merengkuhnya dan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kata-kata yang melakukannya padamu. Perbuatan keji yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mencari pembalasan. Yang dia inginkan adalah kau tenggelam dalam ketanpaan: “mari kita lihat saat nafasmu mulai habis dan paru-parumu dipenuhi oleh kesia-siaan!”

Tentu bukan itu yang benar-benar diucapkannya; sebuah pesan disinari matahari sore di dinding kamarmu – Selamat tinggal.

Bertahun setelahnya kau masih menggapai-gapai wajah nasib buruk itu, mengelusnya; memanggilnya kawan. Dia tak peduli. Yang menepuk-nepuk bahumu tak lain adalah dirimu sendiri.

Besok, pagi yang lain akan datang.

Paramnesia

(1)
Ada yang berlarian dari ujung-ujung bahu
yang sudah lama lengang
oleh jarak dan waktu

menerjal di lengan,
yang kehilangan dekap
menerka-nerka liuk punggung
menjauh

sampai ke telapakku

(2)
Kulacak jejak waktu
sebuah kronologi
kureka wajahmu, mencari
sebuah renjana, bilamana

kutemukan : kutanyakan
kutemukan : lalu hilang

lalu kamu : bukan kamu!

Ah.Seharusnya aku tahu.
jalan ini tak pernah dilalui waktu
hanya rengkahan mimpi
yang datang dulu sekali

Lengang

Sudah berapa lama waktu berlalu? Sejak kau melihat ke tikungan dan membawa punggungmu hilang dari pandangan. Hari apakah itu? Saat kau lepas ujung-ujung jemari yang saling bersentuh sepanjang jalan.

Tak ada yang mengabarkannya padaku. Langit tak berubah merah hari itu. Angin tak berkisar dan memekak di telinga. Kau tak menepuk bahuku. Tak mengambil telapakku dan menoreh gejala.

Jalan ini lengang.

Begitupun aku.

Rindu Kekasih

Rinduku sampai ke puncak-puncak
begitu terjal begitu tinggi, di Tehachapi
Kuteriakkan namamu ke dindingnya yang curam
menyeruak di muram kerumun pinus abu-abu

Lalu ia pecah. Membuncah
ke segala arah!

Doaku sampai ke jari-jari
pohon Yosua di tepi Mojave
Dia tengadahkan tangannya ke langit
Jemarinya diayun angin musim dingin

Nayee

Gurun tanpa suara, dan udara merah darah
terik di wajah. Angin tak bergerak di Navajo.
Cemara serupa kuil. Begitu suci. Begitu sunyi.

Aku mencari Ibu. Di antara bukit pasir
Di batang-batang persik. Aku mencari rahim
yang darinya pernah lahir bayi-bayi – yang
menggenggam hozho di telapak dan dada mereka

Tahukah, Ibu? Ni’Hodixos telah dipenuhi nayee
Besar dan gelap dan lapar, dan kami harus lari
dari mereka. Airmata anak-anak kami di gendongan
begitu berat. Para monster mengejar dan kami

tak bisa sembunyi!

Berkali-kali kupanggil Si Kembar,
Na’Idigishi! Nayee Neizghani!
Datanglah dan usir mimpi buruk kami!
Tapi suaraku terlalu lemah, terbawa angin pergi

Wanita Yang Berubah, mungkin dia sudah lelah
Di rumah kami, musim sudah tak pernah lagi
berganti.