Pagi

Apakah pagi datang ke jendelamu membawa pencarian akan wajah-wajah yang suatu waktu pernah kau kenal; dulu sekali – sebelum hidupmu yang sekarang ini dihempaskan tiba-tiba ke wajahmu. Sementara tubuhmu, lihatlah tanganmu yang ringkih tergelagap ingin merengkuhnya dan mengatakan pada dirimu sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kata-kata yang melakukannya padamu. Perbuatan keji yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mencari pembalasan. Yang dia inginkan adalah kau tenggelam dalam ketanpaan: “mari kita lihat saat nafasmu mulai habis dan paru-parumu dipenuhi oleh kesia-siaan!”

Tentu bukan itu yang benar-benar diucapkannya; sebuah pesan disinari matahari sore di dinding kamarmu – Selamat tinggal.

Bertahun setelahnya kau masih menggapai-gapai wajah nasib buruk itu, mengelusnya; memanggilnya kawan. Dia tak peduli. Yang menepuk-nepuk bahumu tak lain adalah dirimu sendiri.

Besok, pagi yang lain akan datang.

sungai

sore itu kulihat sungai bermula dari buku-buku jarimu. hujan doa dari mataku telah menjadi airnya, membuncah-buncah ketika ia pergi mengaliri lenganmu. angin mendaraskan litani yang bersahut-sahut di sepanjang kulitmu:
Hosanna! Hosanna! Hosanna in the highest!” seiring pusaran mendaki pundakmu .

dan bermuara ia di bibirmu yang adalah lautan luasnya tak terperi. tak terbaca meski sudahlah tenggelam aku di dalamnya.

di sungai aku jadi penari. menarikan hasrat tercekat di langit-langit. meniru-niru gerakmu yang liku menelikung.

Montase

:bernard batubara

adalah tangismu.
yang kau tabung dalam toples. berdebu di sudut meja bersama asbak tua, vas bunga rompal, buku kamus menguning yang bertahun lalu kita pakai belajar
mengeja nyeri.

adalah tangismu.
sebuah miniatur rasa takut yang membiak seiring waktu.

lalu terbit dari matamu

tumpah ke jalanan. mengaliri pohon, lampu, tiang listrik, dan aku yang berlari.
ke persimpangan.

hujan abu

saat pagi itu kau buka pintu
hujan abu deras di telapakku
angin telah menebar kisah
begitu jauh. kata-kata tinular
nyala di dadanya. ingin keluar
mencari laki-laki, istri-istri,
anak-anak perempuan yang
merindu suarga.

ke segara! ke segara! kataku
waktu itu. Tapi jalanan memucat
banjir tertera di wajah-wajah lelah
airmata sudah jadi sungai
mengering di sisi-sisi. pantai,
katamu, akan selalu menunggu.
hari ini kita akan berlari.
Dari nyala-nyala api.

—||:

berhentilah sebentar biar kucicipi pedihmu. mungkin saja aku tak akan pernah mengerti arti pertanyaan yang kau lontarkan pada jalan sepi menuju rumahmu. pada lampu-lampu teras. pada angin yang berdentang-dentang sepanjang pepohonan.

mungkin waktu bagi kita terlambat. tapi tak apa, biar kunikmati sedikit getirmu. tahukah kamu, di sebalik jendela-jendela memang selalu adalah kesunyian yang meremang. kita bisa satu di antaranya. jadi wajah-wajah patah yang asing; yang terus saja rinai dan berderai.

“mari, miladi, kita jadi wajah-wajah patah yang asing;”

“yang terus saja rinai dan berderai.”

sungguh itu pun tak apa. agar suatu waktu kita tak lagi menduga dan menuduhkannya pada hari kemarin.