Rindu Kekasih

Rinduku sampai ke puncak-puncak
begitu terjal begitu tinggi, di Tehachapi
Kuteriakkan namamu ke dindingnya yang curam
menyeruak di muram kerumun pinus abu-abu

Lalu ia pecah. Membuncah
ke segala arah!

Doaku sampai ke jari-jari
pohon Yosua di tepi Mojave
Dia tengadahkan tangannya ke langit
Jemarinya diayun angin musim dingin

Iklan
Posted in Tak Berkategori

Nayee

Gurun tanpa suara, dan udara merah darah
terik di wajah. Angin tak bergerak di Navajo.
Cemara serupa kuil. Begitu suci. Begitu sunyi.

Aku mencari Ibu. Di antara bukit pasir
Di batang-batang persik. Aku mencari rahim
yang darinya pernah lahir bayi-bayi – yang
menggenggam hozho di telapak dan dada mereka

Tahukah, Ibu? Ni’Hodixos telah dipenuhi nayee
Besar dan gelap dan lapar, dan kami harus lari
dari mereka. Airmata anak-anak kami di gendongan
begitu berat. Para monster mengejar dan kami

tak bisa sembunyi!

Berkali-kali kupanggil Si Kembar,
Na’Idigishi! Nayee Neizghani!
Datanglah dan usir mimpi buruk kami!
Tapi suaraku terlalu lemah, terbawa angin pergi

Wanita Yang Berubah, mungkin dia sudah lelah
Di rumah kami, musim sudah tak pernah lagi
berganti.

Posted in Tak Berkategori

Laras

sudah berapa lama kita duduk di sini?
meja ini sudah basah oleh kelesah
“tadi pagi,” katamu: “kita sarapan di sini”
tadi pagi, dua belas tahun yang lalu

kuseka meja dengan serbet
tapi kayu ini sudah lapuk
berdecit-decit, begitu ringkih kurasa
seperti bahumu; tulang belikatmu
dan leher yang menyangga kepala
wajahmu lengang diterpa cuaca
dan cahaya dari jendela

daunmu meranggas,
jatuh ke telapakku

Posted in Tak Berkategori

Di Dermaga

di tikungan, layarku terbaca,
sebelum gedung berjendela emas

lalu kutemukan diriku berdiri di dermaga
angin di rambutku
di kakiku berlarian pasir menjauh
mengajakku kembali

ke tikungan.

kukatakan pada mereka, aku tahu
aku seharusnya kembali ke kota
tapi ingin kutanyakan dahulu

dari perjalanan yang mana kali ini
kepulanganmu
dan apakah kapal tua itu menunggumu

Posted in Tak Berkategori

sungai

sore itu kulihat sungai bermula dari buku-buku jarimu. hujan doa dari mataku telah menjadi airnya, membuncah-buncah ketika ia pergi mengaliri lenganmu. angin mendaraskan litani yang bersahut-sahut di sepanjang kulitmu:
Hosanna! Hosanna! Hosanna in the highest!” seiring pusaran mendaki pundakmu .

dan bermuara ia di bibirmu yang adalah lautan luasnya tak terperi. tak terbaca meski sudahlah tenggelam aku di dalamnya.

di sungai aku jadi penari. menarikan hasrat tercekat di langit-langit. meniru-niru gerakmu yang liku menelikung.

Montase

:bernard batubara

adalah tangismu.
yang kau tabung dalam toples. berdebu di sudut meja bersama asbak tua, vas bunga rompal, buku kamus menguning yang bertahun lalu kita pakai belajar
mengeja nyeri.

adalah tangismu.
sebuah miniatur rasa takut yang membiak seiring waktu.

lalu terbit dari matamu

tumpah ke jalanan. mengaliri pohon, lampu, tiang listrik, dan aku yang berlari.
ke persimpangan.