Laras

sudah berapa lama kita duduk di sini?
meja ini sudah basah oleh kelesah
“tadi pagi,” katamu: “kita sarapan di sini”
tadi pagi, dua belas tahun yang lalu

kuseka meja dengan serbet
tapi kayu ini sudah lapuk
berdecit-decit, begitu ringkih kurasa
seperti bahumu; tulang belikatmu
dan leher yang menyangga kepala
wajahmu lengang diterpa cuaca
dan cahaya dari jendela

daunmu meranggas,
jatuh ke telapakku

Iklan

Di Dermaga

di tikungan, layarku terbaca,
sebelum gedung berjendela emas

lalu kutemukan diriku berdiri di dermaga
angin di rambutku
di kakiku berlarian pasir menjauh
mengajakku kembali

ke tikungan.

kukatakan pada mereka, aku tahu
aku seharusnya kembali ke kota
tapi ingin kutanyakan dahulu

dari perjalanan yang mana kali ini
kepulanganmu
dan apakah kapal tua itu menunggumu

sungai

sore itu kulihat sungai bermula dari buku-buku jarimu. hujan doa dari mataku telah menjadi airnya, membuncah-buncah ketika ia pergi mengaliri lenganmu. angin mendaraskan litani yang bersahut-sahut di sepanjang kulitmu:
Hosanna! Hosanna! Hosanna in the highest!” seiring pusaran mendaki pundakmu .

dan bermuara ia di bibirmu yang adalah lautan luasnya tak terperi. tak terbaca meski sudahlah tenggelam aku di dalamnya.

di sungai aku jadi penari. menarikan hasrat tercekat di langit-langit. meniru-niru gerakmu yang liku menelikung.

Montase

:bernard batubara

adalah tangismu.
yang kau tabung dalam toples. berdebu di sudut meja bersama asbak tua, vas bunga rompal, buku kamus menguning yang bertahun lalu kita pakai belajar
mengeja nyeri.

adalah tangismu.
sebuah miniatur rasa takut yang membiak seiring waktu.

lalu terbit dari matamu

tumpah ke jalanan. mengaliri pohon, lampu, tiang listrik, dan aku yang berlari.
ke persimpangan.

hujan abu

saat pagi itu kau buka pintu
hujan abu deras di telapakku
angin telah menebar kisah
begitu jauh. kata-kata tinular
nyala di dadanya. ingin keluar
mencari laki-laki, istri-istri,
anak-anak perempuan yang
merindu suarga.

ke segara! ke segara! kataku
waktu itu. Tapi jalanan memucat
banjir tertera di wajah-wajah lelah
airmata sudah jadi sungai
mengering di sisi-sisi. pantai,
katamu, akan selalu menunggu.
hari ini kita akan berlari.
Dari nyala-nyala api.