Paramnesia

(1)
Ada yang berlarian dari ujung-ujung bahu
yang sudah lama lengang
oleh jarak dan waktu

menerjal di lengan,
yang kehilangan dekap
menerka-nerka liuk punggung
menjauh

sampai ke telapakku

(2)
Kulacak jejak waktu
sebuah kronologi
kureka wajahmu, mencari
sebuah renjana, bilamana

kutemukan : kutanyakan
kutemukan : lalu hilang

lalu kamu : bukan kamu!

Ah.Seharusnya aku tahu.
jalan ini tak pernah dilalui waktu
hanya rengkahan mimpi
yang datang dulu sekali

Lengang

Sudah berapa lama waktu berlalu? Sejak kau melihat ke tikungan dan membawa punggungmu hilang dari pandangan. Hari apakah itu? Saat kau lepas ujung-ujung jemari yang saling bersentuh sepanjang jalan.

Tak ada yang mengabarkannya padaku. Langit tak berubah merah hari itu. Angin tak berkisar dan memekak di telinga. Kau tak menepuk bahuku. Tak mengambil telapakku dan menoreh gejala.

Jalan ini lengang.

Begitupun aku.

Rindu Kekasih

Rinduku sampai ke puncak-puncak
begitu terjal begitu tinggi, di Tehachapi
Kuteriakkan namamu ke dindingnya yang curam
menyeruak di muram kerumun pinus abu-abu

Lalu ia pecah. Membuncah
ke segala arah!

Doaku sampai ke jari-jari
pohon Yosua di tepi Mojave
Dia tengadahkan tangannya ke langit
Jemarinya diayun angin musim dingin

Nayee

Gurun tanpa suara, dan udara merah darah
terik di wajah. Angin tak bergerak di Navajo.
Cemara serupa kuil. Begitu suci. Begitu sunyi.

Aku mencari Ibu. Di antara bukit pasir
Di batang-batang persik. Aku mencari rahim
yang darinya pernah lahir bayi-bayi – yang
menggenggam hozho di telapak dan dada mereka

Tahukah, Ibu? Ni’Hodixos telah dipenuhi nayee
Besar dan gelap dan lapar, dan kami harus lari
dari mereka. Airmata anak-anak kami di gendongan
begitu berat. Para monster mengejar dan kami

tak bisa sembunyi!

Berkali-kali kupanggil Si Kembar,
Na’Idigishi! Nayee Neizghani!
Datanglah dan usir mimpi buruk kami!
Tapi suaraku terlalu lemah, terbawa angin pergi

Wanita Yang Berubah, mungkin dia sudah lelah
Di rumah kami, musim sudah tak pernah lagi
berganti.

Laras

sudah berapa lama kita duduk di sini?
meja ini sudah basah oleh kelesah
“tadi pagi,” katamu: “kita sarapan di sini”
tadi pagi, dua belas tahun yang lalu

kuseka meja dengan serbet
tapi kayu ini sudah lapuk
berdecit-decit, begitu ringkih kurasa
seperti bahumu; tulang belikatmu
dan leher yang menyangga kepala
wajahmu lengang diterpa cuaca
dan cahaya dari jendela

daunmu meranggas,
jatuh ke telapakku

Di Dermaga

di tikungan, layarku terbaca,
sebelum gedung berjendela emas

lalu kutemukan diriku berdiri di dermaga
angin di rambutku
di kakiku berlarian pasir menjauh
mengajakku kembali

ke tikungan.

kukatakan pada mereka, aku tahu
aku seharusnya kembali ke kota
tapi ingin kutanyakan dahulu

dari perjalanan yang mana kali ini
kepulanganmu
dan apakah kapal tua itu menunggumu