Di Museum

01
dua bola mata
bercahaya
(diawetkan)

02
setoples hujan
diambil dari saku jaket
tempat berteduh

03
sepasang tangan
bergenggaman
(diawetkan)

04
satu matahari
terbit dari ujung pundak

05
sebuah perjalanan
dari kota ke kota
tanpa permulaan kata

06
sebongkah kata
dalam kotak kosong
lupa diucapkan

07
sepotong puisi sisa kemarin
di dalam kulkas
ingin dilupakan

Iklan
Posted in Tak Berkategori

“Adalah kamu!”

Yang tertimbun masa lampau dan terbenam ingatan
Yang berserak-serak tergegerkan lindu pertemuan semalam
Yang kini merewang di antara hari ini dan hari kemarin
Yang hanyut dan lucut

Posted in Tak Berkategori

Bicara Denganmu

: n

Bicara denganmu harus dengan bahasa

dari negeri begitu jauhnya tak juga
usai perjalanan ke sana

: meski telah berkali kuarung bibirmu

Bahasa itu masih saja asing di lidah

dan tubuhku tertatih melafalkan
kata-kata ganjil dan patah
seperti memakai sepatu di kaki yang salah

Maka, kapankah tersampaikan
padamu?

Posted in Tak Berkategori

Waktu Makan Kucing

Halaman rumahmu mendaraskan nyeri
Waktu berkelit; aku bukan tanggungannya – demikian
katanya. Dan penawarku luput begitu saja.

Di teras, kakekmu memberi makan kucing-kucing
dengan nasi sayur sisa di piring kaleng
kutundukkan kepala dan kulihat tanganku

memegang piring kalengku
(aku selalu tak sabar menunggu giliranku)

Kita makan berdua
kepala ikan dari piringmu
berpindah ke piringku

Di sudut ada kolam
tapi tak ada ikan, hanya daun
dan mungkin kata cinta yang
tertimbun sejak tujuh tahun lalu

Kau ambil garu dan kau kais
gundukan masa lalu
berharap menemukan satu

lalu aku, menangis

Posted in Tak Berkategori

Di Gelas Kertas

waktu telah usang
tapi senyummu masih saja
mengikutiku pulang

bertemu lagi pekan depan,
katamu enam tahun yang lalu;
kopi sudah tandas di dasar cuaca

kusesap bersama renjana

setiap malam tiba, kuminta
pelayan membungkus tawamu yang
jadi dingin di gelas kertas

Posted in Tak Berkategori